Promo Umroh Lailatul Qodar Umroh 10 hari terakhir Ramadhan

Setiap tahunnya biaya naik haji baik haji reguler maupun haji khusus / plus pasti berbeda-beda, Call/Wa. 0851-00-444-682 hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen harga untuk kebutuhan pokok naik haji seperti biaya transportasi dan akomodasi termasuk living cost yang dibutuhkan jamaah selama berada di tanah suci sangat fluktuatif. Selain menyediakan paket-paket haji onh plus, umrah dan tour muslim sebagai bentuk layanan yang tersedia, Travel Aida Tourindo Wisata juga berusaha menghadirkan mutowif (pembimbing) ibadah umroh haji yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam, terutama untuk masalah ibadah umrah dan haji.

Kami berusaha memberikan bimbingan mulai sebelum berangkat, saat pelaksanaan dan setelah ibadah haji dan umroh, ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami kepada jamaah, bahwa ibadah yang dijalani telah sah sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Travel kami juga menggunakan penerbangan yang langsung landing Madinah sehingga jamaah bisa nyaman selama perjalanan umroh bersama kami. beda umroh 9 hari dan 12 hari
Satuan reserse unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Depok, telah berhasil menangkap FR yang berusia 17 tahun , atas dugaan menganiaya mantan kekasihnya, MUM yang berusia 16 tahun , karena tidak mau diputus hubungan. Keduanya juga merupakan pelajar di salah satu sekolah yang sama di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kisah tragis yang telah dialami oleh korban, terungkap setelah menceritakan segala perbuatan mantan kekasihnya tersebut ke keluarganya. Berdasarkan dari keterangan dari adik korban, Salwa, kakaknya tersebut telah mengalami luka memar disekujur tubuh akibat dari perlakuan penganiayaan oleh FR. Keduanya juga pernah menjalin kasih asmara, namun tidak bertahan lama, lantaran sikap FR yang suka melakukan kekerasan terhadap kakaknya. “Motif pelaku memukul kakaknya diduga karena motif jalinan asmara,”ujarnya. Akibatnya, lanjut Salwa, warga Pancoranmas itu luka memar di tangan dan kaki. Selain itu berdasarkan informasi dari teman sekolah korban, kakaknya tersebut juga pernah diancam dengan menggunakan pisau kater pemotong kertas. “Kakak saya acapkali menerima pukulan,” jelasnya. Luka fisik yang harus diterima remaja tersebut, juga telah membuat kakaknya mengalami gangguan mental. Hal itu telah terlihat dengan merosotnya nilai di sekolah. “Belakang hari ini, nilai kakak merosot dratis. Dikhawatirkan ada kaitannya dari dampak penyiksaan dan ancaman pelaku,”ungkapnya. Wakapolresta Depok, AKBP Irwan Anwar juga mengatakan membenarkan ada penangkapan pelaku akibat kekerasan yang telah dilakukan pelaku ke korban. “Anggota penyidik masih mendalami kasusnya, dan mencari motif sesungguhnya dibalik aksi pelaku,”ungkapnya. Kasusnya, ujar Irwan, sedang ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Depok. “Kami juga masih perlu memeriksa lagi. Sementara ini, kasusnya terus dikembangkan,” tandas Irwan. Kasus yang telah dialami FR dengan MUM mirip dengan kisah badai asmara antara yang menimpa Ade Sara Angelina Suroto,18, mahasiswi Bunda Mulya yang tewas dihabisi mantan pacarnya sendiri, Ahmad Imam Al Hafitd, 19, bersama kekasihnya, Assyifa Ramadani, 18. Bedanya dalam kasus ini, korban tidak sampai tewas. PELAJAR DITANGKAP POLISI
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »